Pendidikan dan Pengasuhan Sekolah Rakyat Menumbuhkan Kemandirian Anak

*) Oleh : Angga Saputra

Pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk anak agar tumbuh mandiri, disiplin, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan. Melalui sistem pendidikan berasrama, anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memperoleh kesempatan belajar sekaligus pendampingan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan berkualitas, pembentukan karakter, dan pengembangan kecakapan hidup. Hingga April 2026, Sekolah Rakyat telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi yang tersebar di 36 provinsi.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan upaya memenuhi hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan lingkungan belajar berkualitas. Anak-anak yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses pendidikan diberikan kesempatan mengembangkan potensi sesuai kemampuan dan minatnya. Pendekatan ini penting karena kondisi ekonomi keluarga tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak untuk meraih cita-cita. Pendidikan juga diharapkan memberikan bekal agar mereka mampu menentukan pilihan, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan kualitas hidup pada masa mendatang. Dengan demikian, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya dilihat dari nilai pelajaran, tetapi juga dari perubahan sikap dan kemampuan siswa menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Pola pengasuhan di lingkungan asrama menjadi salah satu unsur penting dalam proses pembentukan kemandirian tersebut. Anak dibimbing menjalani rutinitas, menjaga kebersihan diri, merapikan perlengkapan, mengatur waktu, mengikuti kegiatan belajar, serta menghormati aturan bersama. Kebiasaan sederhana ini menjadi latihan agar siswa tidak selalu bergantung pada bantuan orang lain. Namun, prosesnya membutuhkan waktu karena setiap anak memiliki latar belakang keluarga, kebiasaan, dan tingkat perkembangan yang berbeda.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menekankan pentingnya pendampingan yang dilandasi kepedulian dan kasih sayang. Peran wali asuh, wali asrama, guru, dan tenaga kependidikan menjadi penting untuk memastikan kedisiplinan tidak diterapkan melalui tekanan atau hukuman semata. Anak perlu memahami alasan di balik aturan, belajar bertanggung jawab atas tindakannya, dan memperoleh kesempatan memperbaiki kesalahan. Pendekatan penuh empati juga diperlukan untuk mendampingi siswa yang mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan berasrama. Sebagian anak berasal dari lingkungan dengan keterbatasan akses pendidikan dan menghadapi persoalan sosial yang memengaruhi perkembangan mereka. Karena itu, pendampingan harus memperhatikan kebutuhan setiap anak, termasuk kondisi emosional, kesehatan, serta kemampuan beradaptasi. Lingkungan yang aman dan suportif membantu siswa merasa dihargai sehingga lebih berani mencoba hal baru dan mengembangkan kemampuan dirinya.

Selain pengasuhan, proses pembelajaran perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berlatih mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan. Kegiatan kelompok, tugas harian, olahraga, kesenian, dan keterampilan praktis dapat menjadi sarana melatih kerja sama sekaligus tanggung jawab. Anak juga perlu dibiasakan menyampaikan pendapat, mengelola perbedaan, serta menghargai hasil kerja orang lain.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa pembelajaran di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada penguasaan akademik, tetapi juga menekankan pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan sosial. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan yang baik harus membantu anak berkembang secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, perilaku, maupun kemampuan berinteraksi dengan lingkungan.

Kemandirian anak juga berkaitan dengan kemampuan mengenali potensi dan merencanakan masa depan. Siswa perlu dibantu menemukan bidang yang diminati, memahami kekuatan diri, serta mengembangkan keterampilan yang berguna setelah menyelesaikan pendidikan. Pada jenjang sekolah dasar, pembiasaan mengurus kebutuhan pribadi menjadi perhatian penting. Pada jenjang menengah, siswa dapat didorong mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mengelola tanggung jawab, dan menentukan pilihan secara bijak. Sementara itu, siswa tingkat atas perlu memperoleh bimbingan mengenai pendidikan lanjutan, dunia kerja, kewirausahaan, dan keterampilan hidup. Kurikulum Sekolah Rakyat juga telah memiliki landasan pengaturan melalui Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2026 tentang Kurikulum pada Sekolah Rakyat, yang mencakup program akademik, program asrama, bimbingan konseling, dan layanan pekerjaan sosial.

Meski demikian, pembentukan kemandirian tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah. Keterlibatan orang tua tetap dibutuhkan agar kebiasaan positif yang dibangun selama anak tinggal di asrama dapat diteruskan ketika mereka kembali ke rumah. Sekolah dan keluarga perlu menjalin komunikasi mengenai perkembangan akademik, perilaku, kebutuhan emosional, dan rencana masa depan siswa.

Keberhasilan Sekolah Rakyat perlu diukur melalui perubahan nyata dalam kehidupan peserta didik, bukan semata-mata jumlah sekolah atau fasilitas yang tersedia. Anak yang mampu merawat dirinya, bertanggung jawab, berani mengemukakan pendapat, menghormati orang lain, dan memiliki tujuan hidup merupakan bagian dari hasil pendidikan yang bermakna. Untuk mewujudkannya, kualitas pengasuhan, kompetensi tenaga pendidik, perlindungan anak, dan kesinambungan pendampingan keluarga perlu terus diperkuat. Evaluasi berkala juga diperlukan untuk memastikan setiap siswa memperoleh layanan sesuai kebutuhan perkembangannya. Sekolah Rakyat pada akhirnya diharapkan menjadi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk menemukan kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, dan memperoleh kesempatan yang lebih setara. Dengan pendidikan yang bermutu dan pengasuhan yang penuh perhatian, kemandirian dapat tumbuh menjadi bekal bagi anak untuk memperbaiki masa depannya sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

)*Penulis Merupakan Pengamat Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *