Oleh : Abdul Razak)*
Deteksi dini telah lama diposisikan sebagai fondasi dalam upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif. Dalam konteks Indonesia, langkah konkret untuk memperkuat pilar tersebut telah diwujudkan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini tidak hanya menghadirkan akses layanan kesehatan yang lebih luas, tetapi juga mendorong perubahan paradigma dari pengobatan ke pencegahan.
Sebagai sebuah opini, perlu ditegaskan bahwa keberadaan program CKG merupakan kebijakan yang strategis dan relevan dengan tantangan kesehatan saat ini. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, telah menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan setidaknya satu kali dalam setahun perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat. Pernyataan tersebut tidak disampaikan tanpa dasar. Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan gagal ginjal telah menjadi indikator bahwa deteksi dini belum dimanfaatkan secara optimal.
Disebutkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi dengan sekitar 300–350 ribu kasus per tahun, disusul penyakit jantung yang mencapai 250–300 ribu kasus, serta kanker dan penyakit ginjal. Fakta ini seharusnya menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit kronis tidak dapat dipandang sebelah mata. Menurut Budi Gunadi Sadikin, kondisi tersebut sebenarnya masih dapat dicegah karena terdapat rentang waktu lima hingga enam tahun sebelum penyakit berkembang menjadi fatal. Dalam periode inilah deteksi dini memainkan peran yang sangat krusial.
Lebih lanjut, telah dijelaskan bahwa indikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol harus dijaga dalam batas normal. Tekanan darah ideal berada di bawah 120/80, kadar gula darah tidak melebihi 200, serta kolesterol total di bawah 200 dengan LDL di bawah 100. Namun, sering kali kondisi-kondisi tersebut diabaikan karena tidak menimbulkan gejala awal. Akibatnya, banyak kasus penyakit berat baru terdeteksi ketika sudah berada pada tahap lanjut.
Pandangan ini diperkuat oleh temuan di tingkat daerah. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala, Aprina Lingkeh, menyatakan bahwa program CKG menjadi instrumen penting dalam mendeteksi faktor risiko penyakit secara lebih awal. Melalui pelaksanaan program tersebut, kondisi kesehatan masyarakat dapat dipetakan sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
Data pelaksanaan CKG di Donggala sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 49 ribu warga telah mengikuti pemeriksaan kesehatan. Dari hasil tersebut, ditemukan berbagai faktor risiko seperti obesitas sentral, hipertensi, obesitas berdasarkan indeks massa tubuh, gangguan penglihatan, hingga diabetes. Temuan ini memperlihatkan bahwa ancaman penyakit tidak menular telah menyebar luas di masyarakat, bahkan pada individu yang sebelumnya merasa sehat.
Namun demikian, Aprina Lingkeh juga mengakui bahwa pelaksanaan program ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan sosialisasi, serta belum optimalnya koordinasi lintas sektor menjadi hambatan yang perlu segera diatasi. Oleh karena itu, penguatan strategi melalui pendekatan jemput bola dan peningkatan kolaborasi lintas sektor dinilai sangat penting untuk memperluas jangkauan layanan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, drg. Ratih Purnamasari. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam program CKG yang telah dilaksanakan sejak 2025. Menurutnya, meskipun antusiasme masyarakat sudah cukup baik, peningkatan partisipasi tetap perlu didorong agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.
Program CKG di Cilegon bahkan telah dikembangkan dalam beberapa skema, seperti CKG Hari Ulang Tahun, CKG Sekolah, dan CKG Khusus bagi ibu hamil. Inisiatif ini menunjukkan bahwa deteksi dini telah diintegrasikan dalam pendekatan berbasis siklus hidup. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dapat ditanamkan sejak usia dini hingga dewasa.
Selain itu, Kepala UPTD Puskesmas Cilegon, drg. Sefi Saeful Holiq, menegaskan bahwa program CKG tidak hanya ditujukan bagi masyarakat yang merasa sakit. Justru, masyarakat yang merasa sehat sangat dianjurkan untuk mengikuti pemeriksaan. Hal ini dikarenakan apabila ditemukan gangguan kesehatan, peserta dapat segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dari berbagai pandangan narasumber tersebut, dapat disimpulkan bahwa deteksi dini bukan sekadar aktivitas medis, melainkan investasi jangka panjang dalam menjaga kualitas hidup. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau kesiapan fasilitas kesehatan. Peran aktif masyarakat menjadi faktor penentu yang tidak dapat diabaikan.
Sebagai opinion leader, penulis memandang bahwa perubahan pola pikir masyarakat merupakan kunci utama. Pemeriksaan kesehatan harus dipahami sebagai kebutuhan rutin, bukan sekadar respons terhadap penyakit. Tanpa kesadaran tersebut, program CKG berisiko tidak mencapai tujuan optimalnya.
Selain itu, deteksi dini harus diiringi dengan penerapan pola hidup sehat. Aktivitas fisik secara rutin, pola makan seimbang, serta pengelolaan stres yang baik perlu dijadikan kebiasaan sehari-hari. Langkah sederhana ini akan memperkuat hasil pemeriksaan kesehatan dan mencegah munculnya faktor risiko baru.
Dengan demikian, deteksi dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis dapat ditegaskan sebagai pilar utama dalam membangun sistem kesehatan yang berkualitas. Melalui sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, upaya pencegahan penyakit dapat diperkuat secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kualitas hidup masyarakat yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan, selama deteksi dini dijadikan sebagai bagian dari gaya hidup.
)* Analis Kesejahteraan Masyarakat
